Jumat, 12 Juni 2015

BACKCOVER & ENDORSMENTS NOVEL "NAPOLI: Ketika Jatuh di Pelukanmu" (Diva Press, Mei 2015)


BACKCOVER:

"Kau tahu ada sebuah mitos dunia? Barang siapa melempar sebuah koin ke air mancur itu akan kembali ke Roma? Barang siapa melempar dua koin akan menemukan cinta? Dan, barang siapa melempar tiga koin, dia akan segera menikah?"

"Sebenarnya jika ada sebuah air mancur yang bisa membuatku menjadi seorang warga negara Italia, aku akan lebih suka pergi mengunjunginya."

Mulai dari sinilah perjalanan Revina dimulai. Perkenalannya dengan para moreno membuat hidupnya penuh dilema. Pengalaman bersama Francesco membuatnya cukup takut untuk mengakui perasaannya, keadaannya. Kehidupannya berputar di negeri orang, bersama bayangan kegagalan masa lalu. Persimpangan selalu menghadirkan kekuatan tersendiri; antara Italia dan Indonesia, Stefano dan Alejandro, bahkan antara Revina dan egonya.
Napoli, ketika jatuh di pelukanmu….


 ENDORSMENTS:


       Membaca novel travelling berbalut romansa ini bukan hanya memperkaya pikiran, namun juga hati. Sebuah novel yang membuka jendela dunia, sekaligus memperluas cakrawala. ‎
Rangga Almahendra, 
Co-author "99 Cahaya di Langit Eropa"
 dan "Bulan Terbelah di Langit Amerika".


Novel ini serasa membawaku ke Italia, berjumpa akrab dengan bahasa asing yang aku mengerti: bahasa Italia, Prancis, dan Spanyol, sekaligus terbawa arus cerita menarik Revina Anjani bersama Stefano Puglietti lebih dalam lagi. Me gusta esta novela. C’est bien écrit. Bravo, Riska!
Andi Haryanto, 
Penulis buku "Praktis & Mudah Menguasai 3 Bahasa: 
Inggris, Prancis, Spanyol" dan "Cepat & Mudah Kuasai Tenses dengan Smart Table".


Perjalanan cerita cinta Revina dan Stefano yang mendebarkan, dipercantik dengan setting Italia yang memukau. Romantis! Great job, Riska!
Glenn Alexei, 
Penulis novel "Cinta di Atas Awan", "Second Chance"
dan "Lovely Holiday".


Isi di dalam novel "Napoli" sarat akan cinta dan kebiasaan orang-orang Italia. Di sini, saya baru tahu bahwa secangkir kopi ala Napoletano bisa meredakan sakit kepala. “Bukankah ada pepatah mengatakan bahwa secangkir kopi bisa meredakan sakit kepala Italians? Nah..., novel ini sarat akan kebudayaan dan kebiasaan sehari-hari orang Italia! Selamat, Riskaninda! Anda bisa meracik novel dengan setting utama Napoli dan Roma!
Eric Keroncong, 
Penulis novel "Karenamu" dan "Jadikanlah Aku Pacarmu".


        "Napoli" tidak hanya menyuguhkan keindahan dan eksotisme salah satu belahan Benua Eropa, tetapi juga menyuguhkan alur kisah romansa yang membelit dan membelenggu.
Iwok Abqary, 
Penulis novel "Laguna" dan "Dandelion".


Saya suka tiramisu. Dan, buku ini mengingatkan saya akan tiramisu. Lembut, lumer di mulut, menggiurkan, dan melarang saya berhenti sampai habis. Ternyata, Napoli bisa digenggam dalam sebuah buku.
Moemoe Rizal, 
Penulis novel "Outrageous", "Jump", dan "Bangkok: The Journal".



Dokumentasi foto oleh: DIVA Press, Yogyakarta, 22 April 2015.



Probolinggo, 23 Mei 2015.

Jumat, 05 Juni 2015

IRISAN RINDU (Surat cinta)

Oleh : Riskaninda Maharani

 Dili, Timor Leste, 14 Februari 2012.

Dear Aa' Indra,
Hari ini tanggal 14 Februari 2012. Dua tahun sudah aku tak lagi mendengar suaramu. Suara yang dulu sering menguatkanku saat ku resah dan gelisah tak menentu. Suara yang dulu selalu menenangkanku kala hidupku merengut dan luluh lantak terpaku. 

Ah, sudah lama sekali rasanya semua itu berlalu! Namun, tak sedikitpun buliran sang waktu mampu menghapus guratan suara indahmu di hari-hariku sepanjang dua tahun terakhir ini. Hari-hari yang kini telah kujalani dengan seseorang yang lain. Seseorang yang harus kupilih demi menyelamatkan mahligai rumah tangga kedua orang tuaku dan masa depan kedua adik tercintaku.

Maaf. Hanya kata sederhana itu yang mampu kuurai dalam sederet surat cinta tanpa jeda ini. Karena, ku harus menepis namamu dari sisa hidupku. Meski, nama itu tak pernah bisa terhempas dengan baik dari sudut hati dan terdalam jiwaku. 

Hati ini masih sama seperti empat tahun yang lalu. Jiwa ini pun tiada beda dengan bertahun dulu. Meski raga ini tak lagi menjadi milikmu. Namun, rindu ini masih mencecar berpadu. Masih milikmu, A’. Adakah Aa’ di sana juga merindukan Ay di sini?

Harus kuakui, aku adalah seorang pemain cinta dan penggurat kata indah dalam jiwa. Itu pula yang menghantarkanku untuk menyambut pinanganmu empat tahun yang lalu. Sepenuhnya ku ingin bermain dan berputar-putar dalam telaga cintamu. Dengan niat, setahun
, dua tahun setelah itu, kuhapus dirimu selamanya dari kalbuku. Namun, ku salah. Kini ku tahu dengan jelas bahwa ku salah. Kini akulah yang terhempas dan terburai kala ku tak lagi mendengar sebaris suaramu nan indah.

Ya, hanya suara. Hanya sederet suara yang kita saling rajut bersama via media komunikasi nyaris tanpa jeda. Hanya suara yang mampu membuatmu berikrar bahwa kau rindu menjadi pendamping hidupku. Dan dari suara itu pula aku percaya akan kesetiaanmu. Sesetia sinar mentari pagi yang selalu mencintai titah Tuhannya. Sesetia alam semesta yang tak pernah meninggalkan hamparan langit yang menaunginya. Kala satu Sukabumi tahu bahwa akulah calon pendamping hidupmu. Satu-satunya yang pertama dan yang terakhir. Juga yang terbaik.

Harusnya kubangga dan ku bahagia dengan semua itu. Dan menunggu pinangan resmimu yang hanya tersisa hitungan hari. Namun, takdir berkata lain. Aku masih ingat kata-katamu saat itu. “Aa’ sudah dalam perjalanan dari Batam ke rumahmu di Malang, Ay. Aa’ sudah beli cincin untuk melamarmu secara resmi ke hadapan kedua orang tuamu. Tunggu Aa’ ya! Mungkin tiga
, empat hari lagi Aa’ sudah sampai di sana.”

Aku masih ingat dengan jelas semua itu. Sejelas kata-katamu setahun sebelumnya ketika kau harus menyelam ke bawah laut Batam disertai dengan derai demam berkepanjangan hanya untuk mencari sebentuk cincin pernikahan yang kaujanjikan untukku. Sejelas halilintar yang diisyaratkan kedua orang tuaku untuk kemudian.

Ya, halilintar. Itulah yang akhirnya harus dihempaskan mereka ke kedua gendang telingaku. Kala mahligai rumah tangga orang tuaku dan masa depan kedua adikku nyaris roboh dan luluh lantak, karena seorang wanita desa bernama Imah. Istri muda ayahku yang menghabiskan dana tabungan dan jaminan asuransi pendidikan adik-adikku senilai ratusan juta rupiah.

Aku tak bisa menunggu empat hari lagi, A’. Kala pinangan seorang hartawan kaya dari negeri seberang mengetuk pintu rumahku saat itu. Ya, hanya pintu rumahku. Karena
, pintu hati ini hanya untuk Aa’.

Waktu itu hartawan itu menjanjikan sebuah jaminan hidup tanpa batas atas seluruh keluargaku. Dan semua itu benar hingga setahun yang lalu. Saat kau terakhir kali mencariku di sudut rumahku.

Ah, sesungguhnya kau begitu setia menungguku hingga tahun berganti tahun baru! Namun, setelah bulan bergulir bulan, dan aku tak juga kunjung datang, kau juga memutuskan untuk tak lagi mencariku. Dan sejak saat itulah hatiku semakin sakit, A’. Rasanya perih sekali! Seperih luka yang dulu Ay hempaskan ke jantung Aa’.

Lelaki itu mengkhianatiku. Dan hanya menjadikanku sebagai budak beliannya. Kala aku harus melayaninya dan melayani selir-selirnya yang lain. 

Dan ketika semua pedih dan perih ini menjadi tak berkesudahan, mengapa aku mengingat Aa’?

Aku tahu, entah di mana.... Masih di bawah langit yang sama. Kau masih menungguku. Masih seperti dulu. Namun
, di bawah langit yang sama pula, aku hanya bisa menahan pedih dan perih ini. Sungguh lebih dari apapun, aku ingin mencari dan menggapaimu kembali ke dekapanku!

Namun
, di mana aku harus mencarimu, A’? Dulu aku selalu lupa untuk bertanya tentang data dirimu. Akibat, cinta menggebu yang hadir di antara kita tanpa kusadari. Akibat, rindu tanpa akhir yang menyertai di hari-hari itu. 

Ku hanya tahu namamu Indra Rismawan. Dari sebuah desa pesantren di sudut Sukabumi. Sukaraja, jika aku tak salah ingat? Dengan kedua adik perempuan, yang satu bernama Mimi. Adik yang selalu mencintaiku sebesar dirimu mencintaiku. Ku hanya tahu suara ibumu dari ujung terjauh ponselku dulu.

Dan katakan, di mana kini ku harus mencarimu, A’! Untuk membingkai segaris rindu tanpa akhir ini.



Di bawah rembulan pekat Kota Dili,


                                                              "Ay".

L'ILLUSIONE (La poesia)

Da: Riskaninda Maharani

  

L'ombra della faccia viene di nuovo
Ai miei occhi, riflettersi
Fermarsi in fondo al mio cuore
Infastidire la tranquillità di me
E disturbare le mie lunghe notti
           
Ancora, l'ombra del sorriso viene
Nella mia mente, apparire      
Abbattere la difesa del mio cuore
Rompere l'amore di me
E rimanere nel mio sogno

La faccia che non ho mai visto
Ma esiste
Il sorriso che non ho mai guardato
Però è reale
           
Voglio davvero fare la speranza
Tra la decina delle sue foto
Che ho messo ordinatamente
Sulla tavola della mia camera da letto

Voglio davvero raggiungere il sentimento
Tra una pila delle sue opere
Si ammucchiando splendidamente
Come collezione della mia

Sarebbe la faccia reale?
Quando ci sarà il sorriso?
Benchè sappia io che non potrò mai avere i rapporti extra
Con un divo lucido



Traduto al italiano a Dili, Timor dell'est, il 02 settembre 2010.

Rabu, 06 Mei 2015

LA ILUSIÓN (El poema)

De: Riskaninda Maharani

La cara viene de nuevo
En mis ojos, reflejarse
Pararse en fondo a mi corazón
Fastidiar la tranquilidad de mí
Y molestar mis largas noches

Una vez más, la sonrisa viene
En mi mente, aparecer
Abatir la defensa de mi corazón
Romper el corazón de mí
Y vivir en mi sueño

La cara que nunca he visto
Pero existe
La sonrisa que nunca he mirado
Mas es real

Quiero de veras hacer la esperanza
Entre la decena de sus fotos
Que he puesto ordenadamente
Sobre la mesa de mi habitación

Quiero de verdad alcanzar el sentimiento
Entre un montón de sus poesías
Que amontonarse ordenadamente
Como mi colección

Será la cara real?
Cuándo existirá la sonrisa?
Aunque yo sé que nunca podré tener las relaciones de novios
Con una estrella luminosa




Traducido al español en Dili, Timor del Este, el 03 de septiembre de 2010.

A ILUSÃO (O poema)

Por: Riskaninda Maharani 

A sombra do cara vem de novo
En meus olhos, reflectir-se
Parar-se en fundo ao meu coração
Incomodar a tranquilidade de mim
E molestar as minhas lentas noites

Ainda, a sombra do sorriso vem
En a minha mente, aparecer
Abater a defesa do meu coração
Romper o coração de mim
E viver en o meu sonho

O cara que nunca tenho visto
Porém existe
O sorriso que nunca tenho olhado
Mas é reale
           
Quero deveras fazer a esperança
Entre a dezena da suas fotografias
Que tenho metido ordenadamente
Em cima a mesa da minha quarto

Quero deveras alcançar o sentimento
Entre uma pilha das suas poesias
Que amontoar-se esplêndidamente
Como a minha colecção
           
For o cara reale?
Quando existir o sorriso?
Ainda que eu sei que nunca puder possuir os relaçãos de namorados
Con um divo lúcido




Traduzido em Dili, Timor Leste, o 16 de abril de 2011.